Ibu


Saat itu udara terasa dingin. Waktu masih dini hari sehingga matahari belum muncul. Adzan shubuh pun belum terdengar. Namun, di saat kondisi seperti itu tampak seorang ibu yang mengeluarkan sepeda kayuh kecil dan barang jualannya secara perlahan. Sang ibu tidak ingin membangunkan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMA dan SMP. Kedua anaknya masih tertidur dengan pulas. “Biarkan anakku bangun saat adzan shubuh, aku harus bergegas menyiapkan ikatan kangkung ini.” Ucap sang ibu ini dalam hati. “Keriput wajah itu pun sudah tampak. sekarang usaiku sudah tidak muda lagi. Seandainya bapak masih di sini. Pasti dia akan berusaha sekuat tenaga membantu perekonomian kita yang serba pas-pasan ini.” dalam lamunan sang ibu.

Kangkung-kangkung sudah diikat dan segera dimasukkan kedalam keranjang belakang sepeda. kangkung-kangkung tersebut segera dibawa ke pasar untuk dijual. “Sudah penuh keranjangnya, saatnya berangkat.” ucap sang ibu. Tampak kondisi jalanan depan rumah yang masih sepi. Dia harus mengayuh sepeda tersebut sendirian. Jarak pasar dengan rumahnya memang sedikit jauh, sekitar empat kilometer. Sang ibu bersepeda sambil meneruskan lamunannya.

Aku harus berjuang saat ini, demi anak-anakku. Bagiku yang dulu tidak bersekolah ini, masa depan anak-anakku adalah segala-galanya.

Aku ingin mengharapkan apa-apa, bagiku aku hanya ingin anakku bersekolah sampai setinggi-tingginya dan menjadi orang yang sukses.

memang uang hasil jualan kangkung ini tak seberapa. Tapi pasti Allah punya jalan tersendiri ketika kita sudah berusaha secara maksimal. sing penting awake dewe nrimo.

Bagiku, hiburanku saat ini adalah saat dekat dengan anak-anak. Saat melihat mereka tumbuh. Saat mereka menjadi anak yang berbakti. Saat mereka menjadi anak yang sholeh. Saat mereka menjadi kebanggaan di masyarakat. Dan saat mereka menjadi orang sukses. Hal itu membuatku terhibur. Mengalahkan segala hiburan di dunia.

Suatu saat aku ingin anak-anakku kelak tidak seperti ini. Hidup tidak susah lagi. Biarlah aku seperti ini ya Allah, asalkan anak-anakku tidak seperti ini. Sang ibu sambil menitikkan air mata.

lalu lintas kondisi pintu masuk pasar yang ramai membuyarkan lamunan sang ibu. Segera, sepeda ontel tersebut diparkirkan disamping lapak jualannya. Plastik bening dijadikan alas jualan. kangkung-kangkung tersebut ditata dengan rapi. Sang ibu berharap hari ini agar kangkung-kangkung tersebut habis terjual.

*Selamat hari ibu 22 Desember 2009. Terima kasih Ibu. Aku mencintaimu

sumber gambar : [spoiler]http://solokomunitas.wordpress.com/2009/05/30/awal-pagi-pasar-legi-solo/[/spoiler]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s